Namaku Rozita. Biasanya keluarga dan teman-temanku
memanggilku dengan sebutan Ita. Aku berasal dari sebuah daerah kecil disalah
satu kabupaten yang ada di Propinsi Riau. Sejak aku Sekolah Dasar sampai
ketingkat Sekolah Menengah Atas aku tidak pernah merantau keluar daerah.
Sewaktu aku masih sekolah dasar, aku sering mendapat
peringkat walaupun tidak pernah mendapatkan peringkat pertama setidaknya
peringkat tiga besar aku pasti mendapatkannya walaupun harus bersaing dengan
teman-teman selama 6 tahun. Tapi aku bersyukur karena dengan peringkat itu aku bisa membuat kedua orang
tuaku bangga.
Setelah menamatkan pendidikan disekolah dasar, aku pun
memasuki Sekolah Menengah Pertama favorit ya bisa dikatakan sekolah terbaik didaerahku
itu. Namanya SMPN 1 Sungai Apit yang berada di Kabupaten Siak.
Sewaktu di SMP aku juga sering mendapatkan peringkat
sepuluh besar. Karena sewaktu di SMP kedua orang tuaku dan abang-abangku selalu
menekankan aku agar rajin belajar dan akupun mengikutinya. Karena aku tau
maksud mereka adalah agar aku bisa berprestasi seperti teman-temanku yang
lainnya.
Dengan semangat dan motivasi dari kedua orang tuaku dan
saudara-saudaraku, akupun semakin giat belajar agar bisa mendapatkan peringkat.
Tapi sayangnya aku kalah bersaing dengan teman-temanku yang lain. Tapi
Alhamdulillah karena aku bisa memberikan suatu kebanggaan buat kedua orang
tuaku dan saudara-saudaraku. Walaupun waktu itu tak ada yang namanya handphone
seperti sekarang.
Setelah menamatkan Sekolah Menengah Pertama, aku pun
melanjutkan Sekolah Menengah Atas yang juga sekolah favorit didaerahku itu. Namanya SMAN 1 Sungai
Apit. Disinilah awal mula prestasi itu harus aku capai. Banyak teman-temanku
menganggap aku lebih pintar dari mereka sehingga tiap ada tugas mereka selalu berdiskusi dan
mengerjakannya sama-sama dirumahku. Alhasil, sewaktu aku duduk dikelas satu
prestasiku benar-benar menurun dari sebelumnya dan malah sebaliknya
teman-temanku yang mendapatkan nilai yang baik dibandingkan aku. Kedua orang
tuaku sangat kecewa dengan hasil yang aku dapatkan dan akupun menyesalinya.
Ketika memasuki kelas dua, kamipun disuruh mengambil
jurusan yang kami mampu. Setelah berkonsultasi dengan pihak keluarga aku pun
memutuskan untuk mengambil jurusan IPA. Tetapi sewaktu pembagian kelas, namaku
tidak ada didaftar jurusan IPA bahkan jatuh di kelas IPS itupun dikelas paling
akhir. Tahulah kalau yang namanya anak IPS pasti dianggap anak-anak nakal
apalagi aku ditempatkan dikelas paling terakhir.
Untuk mengurangi keraguanku kenapa aku dimasukkan di
dalam kelas IPS, aku dan beberapa temankupun lalu dipanggil keruangan guru. Guruku
pun langsung menjelaskan bahwa aku sepertinya lebih berbakat dan pasti akan
mendapatkan prestasi jika aku mengambil jurusan IPS. Awalnya aku menolak.
Karena apa ? karena aku harus dimasukkan di kelas IPS sementara salah seorang
temanku yang tadinya juga dimasukkan di kelas IPS setelah merayu guru tersebut
akhirnya dia pun bisa masuk di kelas IPA. Aku berpikir ini rasanya tak adil
bagiku. Kenapa guru-guru terlalu pilih kasih denganku. Akhirnya aku mengikuti
keputusan itu dan aku jalani dengan jurusan IPS tersebut. Akupun bertekat siapa
tau dengan masuknya aku di kelas IPS aku bisa mendapat peringkat kembali.
Ternyata benar dugaanku sejak awal. Dikelas IPS ternyata
aku bisa berpacu dengan teman-temanku yang lain. Aku selalu mengerjakan apapun
tugas yang diberikan guru, lebih aktif dikelas, bahkan aku menjadi kesayangan
oleh guru. Dan akhirnya aku bisa mendapatkan peringkat pertama dan itu menjadi
suatu kebanggaan tersendiri buat aku dan kedua orang tuaku. Ternyata apa yang
telah dikatakan guruku sejak awal memang benar kalau aku lebih berbakat
dijurusan IPS dibandingkan IPA.
Kemudian akupun dimasukkan ke kelas IPS unggul yang mana
disitulah tantangan terbesar yang harus aku hadapi. Karena apa ? di kelas
unggul aku harus bersaing dengan anak-anak yang ada didalamnya. Namun entah
mengapa semakin hari semakin aku tidak mempunyai nyali ketika aku berada
dikelas itu. Prestasikupun menurun drastis dari awalnya peringkat pertama
menjadi peringkat ke 23 dari 32 orang siswa. Bayangkan !!. akupun tidak
menyangka ternyata bersaing dikelas unggul itu sangat berat. Walaupun harus
kecewa tetapi setidaknya aku telah berusaha.
Ketika akhir-akhir dikelas tiga sebelum ujian nasional,
kami pun diberikan kesempatan untuk mengikuti tes memasuki perguruan tinggi
favorit. Karena sejak awal aku bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan keluar
daerah akupun mengikuti tes SNMPTN itu dengan berdiskusi terlebih dahulu dengan
kedua orang tua.
Awalnya kedua orang tuaku sudah tidak sanggup lagi untuk
melanjutkan aku kuliah karena abangku pun masih kuliah dan belum selesai. Tapi
dengan kemauanku yang begitu kuat akhirnya kedua orang tuaku mengizinkannya.
Akupun mengambil jalur SNMPTN itu dengan mengambil jurusan Pendidikan Geografi
di universitas Negeri Padang (UNP) dan Pendidikan Bahasa Inggris di universitas
Riau (UNRI). Tapi sayangnya aku tidak jebol. Sangat disayangkan tapi aku yakin
Tuhan mempunyai jalan terbaik buat aku.
Karena tidak ada pilihan lain sementara di Universitas
lain jalur pendaftarannya sudah habis, aku pun memasuki salah satu Universitas
swasta yang ada di Pekanbaru yaitu universitas Lancang Kuning (UNILAK) dengan
mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris .
Mungkin disinilah jalanku walaupun saudara-saudaraku
tidak menyetujui aku kuliah disini dan menyuruhku mengambil universitas yang
lebih terkenal. Aku tidak peduli. Malahan aku merasa di sini jauh lebih baik di bandingkan
universitas lainnya. Memang Universitas ini milik swasta dan Perguruan Tinggi
lainnya sudah Negeri, tapi disini walaupun milik swasta aku bersyukur karena
semua Universitas itu mempunyai keunggulan dan kualitas masing-masing.
Sekarang aku sudah semester 4. Tapi entah mengapa
sepertinya semangatku dan keberanianku susah sekali aku tonjolkan seperti waktu
aku masih di sekolah-sekolah dulu. Aku lebih banyak diam dibandingkan dengan
berbicara. Entah karena aku pemalu dalam menyampaikan sesuatu atau tidak
mempunyai pengetahuan yang luas, entahlah. Sebenarnya aku bisa tapi
ketidakberanianku membuatku kalah dari teman-temanku yang lainnya.
Tapi aku mempunyai satu prinsip bahwa “ aku pasti bisa “
dan kenapa orang lain bisa aku tidak. Dan disinilah aku harus tetap bersemangat
untuk menjalani apa yang telah aku ambil. Karena aku yakin jika aku
bersungguh-sungguh pasti Allah akan tunjukkan aku jalan untuk aku menggapai
suatu keberhasilan itu…
Inilah akhir dari ceritaku, semoga bermanfaat dan semoga
yang membaca bisa termotivasi dan selalu akan bersungguh dalam menjalani apa
yang telah menjadi pilihan kita sejak awal. Ingatlah bahwa apapun yang sedang
kita jalani sekarang pasti akan ada hasilnya . karena tidak akan ada yang
sia-sia jika kita mau menjalaninya dengan ikhlas, bersungguh-sungguh dan
tentunya ada niat dan semangat.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussaya suka dgn kalimat ini..."Aku tidak peduli. Malahan aku merasa di sini jauh lebih baik di bandingkan universitas lainnya"... paling tidak saingan unilak itu seharusnya cambridge and oxford..#tetap semangat yaa
BalasHapus