Senin, 07 Maret 2016

Dimana semangat yang dulu




                Namaku Rozita. Biasanya keluarga dan teman-temanku memanggilku dengan sebutan Ita. Aku berasal dari sebuah daerah kecil disalah satu kabupaten yang ada di Propinsi Riau. Sejak aku Sekolah Dasar sampai ketingkat Sekolah Menengah Atas aku tidak pernah merantau keluar daerah.
            Sewaktu aku masih sekolah dasar, aku sering mendapat peringkat walaupun tidak pernah mendapatkan peringkat pertama setidaknya peringkat tiga besar aku pasti mendapatkannya walaupun harus bersaing dengan teman-teman selama 6 tahun. Tapi aku bersyukur karena dengan  peringkat itu aku bisa membuat kedua orang tuaku bangga.
            Setelah menamatkan pendidikan disekolah dasar, aku pun memasuki Sekolah Menengah Pertama favorit ya bisa dikatakan sekolah terbaik didaerahku itu. Namanya SMPN 1 Sungai Apit yang berada di Kabupaten Siak.
            Sewaktu di SMP aku juga sering mendapatkan peringkat sepuluh besar. Karena sewaktu di SMP kedua orang tuaku dan abang-abangku selalu menekankan aku agar rajin belajar dan akupun mengikutinya. Karena aku tau maksud mereka adalah agar aku bisa berprestasi seperti teman-temanku yang lainnya.
            Dengan semangat dan motivasi dari kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku, akupun semakin giat belajar agar bisa mendapatkan peringkat. Tapi sayangnya aku kalah bersaing dengan teman-temanku yang lain. Tapi Alhamdulillah karena aku bisa memberikan suatu kebanggaan buat kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku. Walaupun waktu itu tak ada yang namanya handphone seperti sekarang.
            Setelah menamatkan Sekolah Menengah Pertama, aku pun melanjutkan Sekolah Menengah Atas yang juga sekolah  favorit didaerahku itu. Namanya SMAN 1 Sungai Apit. Disinilah awal mula prestasi itu harus aku capai. Banyak teman-temanku menganggap aku lebih pintar dari mereka sehingga tiap  ada tugas mereka selalu berdiskusi dan mengerjakannya sama-sama dirumahku. Alhasil, sewaktu aku duduk dikelas satu prestasiku benar-benar menurun dari sebelumnya dan malah sebaliknya teman-temanku yang mendapatkan nilai yang baik dibandingkan aku. Kedua orang tuaku sangat kecewa dengan hasil yang aku dapatkan dan akupun menyesalinya.
            Ketika memasuki kelas dua, kamipun disuruh mengambil jurusan yang kami mampu. Setelah berkonsultasi dengan pihak keluarga aku pun memutuskan untuk mengambil jurusan IPA. Tetapi sewaktu pembagian kelas, namaku tidak ada didaftar jurusan IPA bahkan jatuh di kelas IPS itupun dikelas paling akhir. Tahulah kalau yang namanya anak IPS pasti dianggap anak-anak nakal apalagi aku ditempatkan dikelas paling terakhir.
            Untuk mengurangi keraguanku kenapa aku dimasukkan di dalam kelas IPS, aku dan beberapa temankupun lalu dipanggil keruangan guru. Guruku pun langsung menjelaskan bahwa aku sepertinya lebih berbakat dan pasti akan mendapatkan prestasi jika aku mengambil jurusan IPS. Awalnya aku menolak. Karena apa ? karena aku harus dimasukkan di kelas IPS sementara salah seorang temanku yang tadinya juga dimasukkan di kelas IPS setelah merayu guru tersebut akhirnya dia pun bisa masuk di kelas IPA. Aku berpikir ini rasanya tak adil bagiku. Kenapa guru-guru terlalu pilih kasih denganku. Akhirnya aku mengikuti keputusan itu dan aku jalani dengan jurusan IPS tersebut. Akupun bertekat siapa tau dengan masuknya aku di kelas IPS aku bisa mendapat peringkat kembali.
            Ternyata benar dugaanku sejak awal. Dikelas IPS ternyata aku bisa berpacu dengan teman-temanku yang lain. Aku selalu mengerjakan apapun tugas yang diberikan guru, lebih aktif dikelas, bahkan aku menjadi kesayangan oleh guru. Dan akhirnya aku bisa mendapatkan peringkat pertama dan itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri buat aku dan kedua orang tuaku. Ternyata apa yang telah dikatakan guruku sejak awal memang benar kalau aku lebih berbakat dijurusan IPS dibandingkan IPA.
            Kemudian akupun dimasukkan ke kelas IPS unggul yang mana disitulah tantangan terbesar yang harus aku hadapi. Karena apa ? di kelas unggul aku harus bersaing dengan anak-anak yang ada didalamnya. Namun entah mengapa semakin hari semakin aku tidak mempunyai nyali ketika aku berada dikelas itu. Prestasikupun menurun drastis dari awalnya peringkat pertama menjadi peringkat ke 23 dari 32 orang siswa. Bayangkan !!. akupun tidak menyangka ternyata bersaing dikelas unggul itu sangat berat. Walaupun harus kecewa tetapi setidaknya aku telah berusaha.
            Ketika akhir-akhir dikelas tiga sebelum ujian nasional, kami pun diberikan kesempatan untuk mengikuti tes memasuki perguruan tinggi favorit. Karena sejak awal aku bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan keluar daerah akupun mengikuti tes SNMPTN itu dengan berdiskusi terlebih dahulu dengan kedua orang tua.
            Awalnya kedua orang tuaku sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan aku kuliah karena abangku pun masih kuliah dan belum selesai. Tapi dengan kemauanku yang begitu kuat akhirnya kedua orang tuaku mengizinkannya. Akupun mengambil jalur SNMPTN itu dengan mengambil jurusan Pendidikan Geografi di universitas Negeri Padang (UNP) dan Pendidikan Bahasa Inggris di universitas Riau (UNRI). Tapi sayangnya aku tidak jebol. Sangat disayangkan tapi aku yakin Tuhan mempunyai jalan terbaik buat aku.
            Karena tidak ada pilihan lain sementara di Universitas lain jalur pendaftarannya sudah habis, aku pun memasuki salah satu Universitas swasta yang ada di Pekanbaru yaitu universitas Lancang Kuning (UNILAK) dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris .
            Mungkin disinilah jalanku walaupun saudara-saudaraku tidak menyetujui aku kuliah disini dan menyuruhku mengambil universitas yang lebih terkenal. Aku tidak peduli. Malahan aku merasa  di sini jauh lebih baik di bandingkan universitas lainnya. Memang Universitas ini milik swasta dan Perguruan Tinggi lainnya sudah Negeri, tapi disini walaupun milik swasta aku bersyukur karena semua Universitas itu mempunyai keunggulan dan kualitas masing-masing.
            Sekarang aku sudah semester 4. Tapi entah mengapa sepertinya semangatku dan keberanianku susah sekali aku tonjolkan seperti waktu aku masih di sekolah-sekolah dulu. Aku lebih banyak diam dibandingkan dengan berbicara. Entah karena aku pemalu dalam menyampaikan sesuatu atau tidak mempunyai pengetahuan yang luas, entahlah. Sebenarnya aku bisa tapi ketidakberanianku membuatku kalah dari teman-temanku yang lainnya.
            Tapi aku mempunyai satu prinsip bahwa “ aku pasti bisa “ dan kenapa orang lain bisa aku tidak. Dan disinilah aku harus tetap bersemangat untuk menjalani apa yang telah aku ambil. Karena aku yakin jika aku bersungguh-sungguh pasti Allah akan tunjukkan aku jalan untuk aku menggapai suatu keberhasilan itu…
            Inilah akhir dari ceritaku, semoga bermanfaat dan semoga yang membaca bisa termotivasi dan selalu akan bersungguh dalam menjalani apa yang telah menjadi pilihan kita sejak awal. Ingatlah bahwa apapun yang sedang kita jalani sekarang pasti akan ada hasilnya . karena tidak akan ada yang sia-sia jika kita mau menjalaninya dengan ikhlas, bersungguh-sungguh dan tentunya ada niat dan semangat.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. saya suka dgn kalimat ini..."Aku tidak peduli. Malahan aku merasa di sini jauh lebih baik di bandingkan universitas lainnya"... paling tidak saingan unilak itu seharusnya cambridge and oxford..#tetap semangat yaa

    BalasHapus