Senin, 07 Maret 2016

Ukirlah Prestasi Buat Mereka



Hai hai hai para reader ? giman kabar nya nih ? semoga senantiasa dalam lindungan Allah SWT yaa. Amiin… dan semoga masih tetap semangat dan nggak akan pernah bosan untuk membaca postingan kedua saya ini. Maklumlah namanya juga baru-baru mulai belajar memposting tentunya masih bingung-bingung gimana gitu, hehe :D
Untuk menghilangkan kebosanan para reader dalam membaca postingan saya ini, saya punya tips niih gimana supaya reader merasa tertarik dan nggak jenuh lagi  ! apa siih tips nya ?? mau tau donk, yaa kan ! tips nya adalah sebelum membaca pastikan reader mempunyai niat terlebih dahulu. Penting loh ! karena apa ??  jika sebelum membaca reader udah nggak ada niat otomatis ilmu yang ada didalamnya nggak akan kita dapatkan. Dan yang kedua mulai lah membaca dari hati kehati supaya ilmunya bisa terekam di memori. Amiin… Inshaa Allah dengan begitu nggak bakalan sia-sia deh !. apa siih yang ingin dibaca ?? pasti bingungkan !? yuk langsung saja kita masuk materinya….
“ Buatlah Orang Tuamu Bangga, Buatlah Musuhmu Iri, dan Buatlah Dirimu Sendiri Bahagia”
Mendengar kata-kata bahagia apa yang ada di pikiran kita ? pasti kita semua ingin bahagia dan sukseskan ? ini merupakan kelanjutan dari postingan saya yang pertama kemaren. Yang mana tak ada satu orang pun yang ingin hidupnya tidak bahagia. Terutama orang tua terhadap anak nya. Tidak ada satupun orang tua yang ingin melihat anaknya hidup didalam penderitaan. Dan semua orang tua pasti menginginkan anak-anaknya bisa berhasil dan tidak menggikuti jejak langkah mereka. Untuk itu lah dengan bersusah payah, tidak peduli hujan panas mereka tetap ingin membuat anak-anak dan keluarganya bahagia. Segala keinginan kita walau bagaimanapun resikonya pasti mereka akan berusaha untuk mewujudkan keinginan itu, walaupun terkadang banyak diantara kita sering melupakan pengorbanan mereka.
Ibu yang telah mengandung kita selama Sembilan bulan, melahirkan dengan bersusah payah mempertaruhkan nyawanya untuk kita agar kita bisa menghirup udara didunia ini, merawat kita, menyusui , bahkan terkadang tak pernah tiidur untuk menunggui kita ketika kita sedang sakit.
Sementara ayah, ayah menjadi tulang punggung keluarga. Demi menghidupi istri , anak-anak dan keluarganya ayah pun rela berangkat pagi bahkan pulang di waktu sore harinya tak peduli hujan panas ia tetap bekerja tanpa memikirkan resiko apa yang akan ia dapatkan .
Tapi apakah kita sebagai anak sudah memberikan yang terbaik buat perjuangan dan kerja keras dari setiap usaha mereka itu ? pasti jawabannya belumkan ?.
Setiap perjuangan dan kerja keras mereka itu sampai kapan pun tidak akan pernah terbayarkan walau dengan harta melimpah sekalipun.
Untuk itu buatlah kedua orang tua kita bangga. Walaupun kita masih belum mampu untuk memberikan barang-barang mewah kepada mereka setidaknya kita bisa mengukir prestasi dan menunjukkan akhlak yang baik sudah lebih dari sekedar bangga buat mereka. Karena setiap orang tua tidak akan pernah menuntut kita supaya kita membayar jasa-jasanya. Cukup sekedar kita INGAT saja dengan perjuangan mereka, bagi mereka itu sudah lebih dari cukup.
Tetapi alangkah baiknya kita sebagai anak harus tau diri juga. !
Apalagi zaman semakin modern dan teknologi semakin hari semakin canggih. Jika dilihat tak sedikit dari generasi yang ada seperti sekarang banyak anak-anak remaja bahkan yang masih anak-anak sekalipun melakukan tindakan asusila dan bahkan merajalela dimana-mana. Itulah yang membuat kedua orang tua merasa terhenyuh melihat anak-anaknya melakukan seperti itu. Seakan-akan didikan mereka sejak awal tidak berhasil.
Jangankan kita membuat keduanya bangga dengan memberikan prestasi. Eh, malah membuat mereka menangis. Nauzubillahiminzaliik. Sangat disayangkan….
Nahh reader, untuk itu sekarang lah saat nya kita membuat keduanya tersenyum bahagia. Karena apa ? selagi kita mempunyai kesempatan dan selagi mereka masih bisa bernafas buatlah keduanya bangga dengan menunjukkan prestasi apa yang ingin kita berikan buat mereka.
Karena jika suatu saat nanti kita sudah bisa memberikan kebanggan buat mereka, otomatis orang-orang maupun musuh kita akan merasa iri dengan apa yang telah kita raih dan kita pun akan merasa bahagia..
Nah itulah sedikit motivasi buat kita semoga kita bisa menunjukkan prestasi buat kedua orang tua kita dan membuat mereka merasa bangga mempunyai anak seperti kita. Jangan pernah sekalipun kita mengukir luka dihati mereka. Karena tak akan ada yang tidak mungkin selagi kita mau belajar dan berusaha dengan sungguh-sungguh agar apa yang kita inginkan bisa tercapai kedepannya. Amiin..
Terimakasih sudah membaca J

Dimana semangat yang dulu




                Namaku Rozita. Biasanya keluarga dan teman-temanku memanggilku dengan sebutan Ita. Aku berasal dari sebuah daerah kecil disalah satu kabupaten yang ada di Propinsi Riau. Sejak aku Sekolah Dasar sampai ketingkat Sekolah Menengah Atas aku tidak pernah merantau keluar daerah.
            Sewaktu aku masih sekolah dasar, aku sering mendapat peringkat walaupun tidak pernah mendapatkan peringkat pertama setidaknya peringkat tiga besar aku pasti mendapatkannya walaupun harus bersaing dengan teman-teman selama 6 tahun. Tapi aku bersyukur karena dengan  peringkat itu aku bisa membuat kedua orang tuaku bangga.
            Setelah menamatkan pendidikan disekolah dasar, aku pun memasuki Sekolah Menengah Pertama favorit ya bisa dikatakan sekolah terbaik didaerahku itu. Namanya SMPN 1 Sungai Apit yang berada di Kabupaten Siak.
            Sewaktu di SMP aku juga sering mendapatkan peringkat sepuluh besar. Karena sewaktu di SMP kedua orang tuaku dan abang-abangku selalu menekankan aku agar rajin belajar dan akupun mengikutinya. Karena aku tau maksud mereka adalah agar aku bisa berprestasi seperti teman-temanku yang lainnya.
            Dengan semangat dan motivasi dari kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku, akupun semakin giat belajar agar bisa mendapatkan peringkat. Tapi sayangnya aku kalah bersaing dengan teman-temanku yang lain. Tapi Alhamdulillah karena aku bisa memberikan suatu kebanggaan buat kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku. Walaupun waktu itu tak ada yang namanya handphone seperti sekarang.
            Setelah menamatkan Sekolah Menengah Pertama, aku pun melanjutkan Sekolah Menengah Atas yang juga sekolah  favorit didaerahku itu. Namanya SMAN 1 Sungai Apit. Disinilah awal mula prestasi itu harus aku capai. Banyak teman-temanku menganggap aku lebih pintar dari mereka sehingga tiap  ada tugas mereka selalu berdiskusi dan mengerjakannya sama-sama dirumahku. Alhasil, sewaktu aku duduk dikelas satu prestasiku benar-benar menurun dari sebelumnya dan malah sebaliknya teman-temanku yang mendapatkan nilai yang baik dibandingkan aku. Kedua orang tuaku sangat kecewa dengan hasil yang aku dapatkan dan akupun menyesalinya.
            Ketika memasuki kelas dua, kamipun disuruh mengambil jurusan yang kami mampu. Setelah berkonsultasi dengan pihak keluarga aku pun memutuskan untuk mengambil jurusan IPA. Tetapi sewaktu pembagian kelas, namaku tidak ada didaftar jurusan IPA bahkan jatuh di kelas IPS itupun dikelas paling akhir. Tahulah kalau yang namanya anak IPS pasti dianggap anak-anak nakal apalagi aku ditempatkan dikelas paling terakhir.
            Untuk mengurangi keraguanku kenapa aku dimasukkan di dalam kelas IPS, aku dan beberapa temankupun lalu dipanggil keruangan guru. Guruku pun langsung menjelaskan bahwa aku sepertinya lebih berbakat dan pasti akan mendapatkan prestasi jika aku mengambil jurusan IPS. Awalnya aku menolak. Karena apa ? karena aku harus dimasukkan di kelas IPS sementara salah seorang temanku yang tadinya juga dimasukkan di kelas IPS setelah merayu guru tersebut akhirnya dia pun bisa masuk di kelas IPA. Aku berpikir ini rasanya tak adil bagiku. Kenapa guru-guru terlalu pilih kasih denganku. Akhirnya aku mengikuti keputusan itu dan aku jalani dengan jurusan IPS tersebut. Akupun bertekat siapa tau dengan masuknya aku di kelas IPS aku bisa mendapat peringkat kembali.
            Ternyata benar dugaanku sejak awal. Dikelas IPS ternyata aku bisa berpacu dengan teman-temanku yang lain. Aku selalu mengerjakan apapun tugas yang diberikan guru, lebih aktif dikelas, bahkan aku menjadi kesayangan oleh guru. Dan akhirnya aku bisa mendapatkan peringkat pertama dan itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri buat aku dan kedua orang tuaku. Ternyata apa yang telah dikatakan guruku sejak awal memang benar kalau aku lebih berbakat dijurusan IPS dibandingkan IPA.
            Kemudian akupun dimasukkan ke kelas IPS unggul yang mana disitulah tantangan terbesar yang harus aku hadapi. Karena apa ? di kelas unggul aku harus bersaing dengan anak-anak yang ada didalamnya. Namun entah mengapa semakin hari semakin aku tidak mempunyai nyali ketika aku berada dikelas itu. Prestasikupun menurun drastis dari awalnya peringkat pertama menjadi peringkat ke 23 dari 32 orang siswa. Bayangkan !!. akupun tidak menyangka ternyata bersaing dikelas unggul itu sangat berat. Walaupun harus kecewa tetapi setidaknya aku telah berusaha.
            Ketika akhir-akhir dikelas tiga sebelum ujian nasional, kami pun diberikan kesempatan untuk mengikuti tes memasuki perguruan tinggi favorit. Karena sejak awal aku bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan keluar daerah akupun mengikuti tes SNMPTN itu dengan berdiskusi terlebih dahulu dengan kedua orang tua.
            Awalnya kedua orang tuaku sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan aku kuliah karena abangku pun masih kuliah dan belum selesai. Tapi dengan kemauanku yang begitu kuat akhirnya kedua orang tuaku mengizinkannya. Akupun mengambil jalur SNMPTN itu dengan mengambil jurusan Pendidikan Geografi di universitas Negeri Padang (UNP) dan Pendidikan Bahasa Inggris di universitas Riau (UNRI). Tapi sayangnya aku tidak jebol. Sangat disayangkan tapi aku yakin Tuhan mempunyai jalan terbaik buat aku.
            Karena tidak ada pilihan lain sementara di Universitas lain jalur pendaftarannya sudah habis, aku pun memasuki salah satu Universitas swasta yang ada di Pekanbaru yaitu universitas Lancang Kuning (UNILAK) dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris .
            Mungkin disinilah jalanku walaupun saudara-saudaraku tidak menyetujui aku kuliah disini dan menyuruhku mengambil universitas yang lebih terkenal. Aku tidak peduli. Malahan aku merasa  di sini jauh lebih baik di bandingkan universitas lainnya. Memang Universitas ini milik swasta dan Perguruan Tinggi lainnya sudah Negeri, tapi disini walaupun milik swasta aku bersyukur karena semua Universitas itu mempunyai keunggulan dan kualitas masing-masing.
            Sekarang aku sudah semester 4. Tapi entah mengapa sepertinya semangatku dan keberanianku susah sekali aku tonjolkan seperti waktu aku masih di sekolah-sekolah dulu. Aku lebih banyak diam dibandingkan dengan berbicara. Entah karena aku pemalu dalam menyampaikan sesuatu atau tidak mempunyai pengetahuan yang luas, entahlah. Sebenarnya aku bisa tapi ketidakberanianku membuatku kalah dari teman-temanku yang lainnya.
            Tapi aku mempunyai satu prinsip bahwa “ aku pasti bisa “ dan kenapa orang lain bisa aku tidak. Dan disinilah aku harus tetap bersemangat untuk menjalani apa yang telah aku ambil. Karena aku yakin jika aku bersungguh-sungguh pasti Allah akan tunjukkan aku jalan untuk aku menggapai suatu keberhasilan itu…
            Inilah akhir dari ceritaku, semoga bermanfaat dan semoga yang membaca bisa termotivasi dan selalu akan bersungguh dalam menjalani apa yang telah menjadi pilihan kita sejak awal. Ingatlah bahwa apapun yang sedang kita jalani sekarang pasti akan ada hasilnya . karena tidak akan ada yang sia-sia jika kita mau menjalaninya dengan ikhlas, bersungguh-sungguh dan tentunya ada niat dan semangat.